KABUPATEN TANGERANG – Sejak pagi, kawasan Highland Stadium, Talaga Bestari, Kabupaten Tangerang, sudah dipenuhi kendaraan dengan pelat nomor berbagai daerah. Ada yang datang dari Lampung, ada pula rombongan dari Cirebon, Yogyakarta, Semarang, Bekasi hingga sejumlah wilayah di Banten dan Pulau Jawa.
Mereka datang membawa satu tujuan yang sama: menggantung harapan pada suara kicau.
Suasana yang digambarkan di atas terjadi pada Minggu, (14/6/2026). Highland Stadium berubah menjadi arena besar para pecinta burung dalam Lomba Burung Kicau Mania Nusantara Piala Bupati Tangerang yang digelar Ronggolawe Nusantara Selection (RNS).
Suara merdu Murai Batu dan Cucak Hijau bersahut-sahutan di bawah gantangan. Di tengah riuh peserta, para pemilik burung tampak serius memperhatikan tiap gerak sang jawara.
Ada yang berdiri sambil melipat tangan, sesekali menatap juri. Ada pula yang tak bisa menyembunyikan rasa cemas ketika burung andalannya terlihat kurang agresif berkicau.
“Kami apresiasi atas terselenggaranya lomba burung ini dan berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara rutin setiap tahun,” kata Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, yang membuka acara.
Apresiasi Maesyal itu diberikan karena lomba burung tersebut mampu menyedot antusias banyak orang, baik peserta atau penonton. Acara pun kian meriah karena panitia turut menyediakan tenant UMKM yang tampak sibuk melayani pengunjung.
Panitia juga menyisipkan kegiatan sosial berupa santunan kepada ratusan anak yatim, membuat perhelatan kicau mania ini terasa lebih dari sekadar kompetisi. Bahkan, Maesyal membeli beberapa pasang sepatu di salah satu tenant UMKM untuk para anak yatim.
“Kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi komunitas penghobi, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” kata Maesyal.
Tak kurang dari hampir seribu peserta turut ambil bagian dalam gelaran tersebut. Antusiasme itu bahkan membuat seluruh slot lomba ludes terisi. Padahal panitia tidak membuka pemesanan tiket secara daring.
Ketua RNS, Petrus Julianus mengatakan, panitia menyiapkan 25 sesi perlombaan dengan dua lapangan, di mana setiap sesi tersedia 24 slot peserta dan semuanya terisi penuh.
“Antusiasnya bagus. Mudah-mudahan cuaca cerah sehingga acara ramai dan lancar,” kata Petrus.
Di arena lomba, suara peluit juri dan denting gantangan bersatu dengan riuh percakapan para penghobi. Sesekali terdengar sorakan kecil ketika seekor burung tampil dominan, melontarkan lagu panjang dengan volume yang memecah suasana.
Menurut Kepala Bidang Penjurian, Kenny Rafsanjani, hanya ada dua jenis burung yang diperlombakan dalam ajang tersebut, yakni Murai Batu dan Cucak Hijau. Namun perkara menentukan pemenang bukan soal siapa yang paling nyaring.
Kenny bilang, ada sejumlah aspek yang menjadi perhatian dewan juri: mulai dari kualitas kicauan, irama lagu, variasi suara, volume, hingga gaya burung saat tampil di gantangan.
“Itu semua penilaian untuk lomba burung,” ujar Kenny.
Kemegahan lomba semakin terasa karena panitia menyediakan hadiah yang tak main-main. Tak hanya uang tunai, peserta juga memperebutkan hadiah sepeda motor hingga mobil.
Di tengah suara burung yang bersahut-sahutan, harapan itu terasa cukup nyata. Ketika hobi mengumpulkan orang dari berbagai kota, perputaran ekonomi ikut bergerak—dari pedagang makanan, parkir, hingga pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.
Dan di Talaga Bestari hari itu, burung-burung tak hanya berlomba suara. Mereka juga menjadi alasan ratusan orang berkumpul, berbelanja, bersilaturahmi, dan membawa denyut kecil ekonomi rakyat tetap hidup.(rhl)






