TANGERANG – Aktivitas perdagangan di Pasar Gudang Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, semakin lesu. Pengelola menyebut hampir separuh dari sekitar 350 pedagang kini sudah tidak berjualan, terutama pedagang pakaian di lantai dua.
Pengelola Pasar Gudang Tigaraksa, Acep Jayadiwira mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi perubahan pola belanja masyarakat yang semakin beralih ke platform daring serta maraknya pasar tumpah di wilayah Tigaraksa.

“Kalau di lantai dua itu bener-bener parah lah, karena kita nggak bisa bersaing dengan online. Barangnya tinggal diklik, murah. Sektor sandang menjadi yang paling terpuruk karena tidak bisa bersaing dengan medsos dan toko online,” ujar Acep, Selasa (1/9/2026).
Menurut Acep, pedagang pakaian menjadi sektor yang paling terdampak. Dari sekitar 350 pedagang yang terdata, hampir setengahnya disebut telah gulung tikar, khususnya pedagang di lantai atas.
Selain belanja online, keberadaan pasar kaget setiap akhir pekan juga dinilai ikut menggerus jumlah pembeli Pasar Gudang Tigaraksa.
Pasar dadakan yang beroperasi setiap Sabtu dan Minggu di kawasan RSUD Tigaraksa hingga area Pemda disebut menjadi salah satu tujuan masyarakat untuk berbelanja.
“Pada hari Minggu yang seharusnya menjadi momentum panen bagi pedagang pasar, sekitar 70 persen pembeli justru beralih ke pasar dadakan,” katanya.
Pengelola mengaku telah berkoordinasi dengan Satpol PP Kabupaten Tangerang untuk mencari solusi terkait keberadaan pasar tumpah tersebut.
Di tengah kondisi itu, pengelola Pasar Gudang Tigaraksa juga mencoba menarik kembali minat masyarakat dengan berbagai kegiatan. Di antaranya lomba burung berkicau atau gantangan serta senam pagi rutin setiap Minggu di area pasar.
Persaingan juga semakin ketat dengan munculnya pasar baru seperti Pasar Sodong yang menurut pengelola diduga dikelola pihak swasta.
Acep berharap Pemkab Tangerang bersama Perumdam Pasar Niaga Kerta Raharja dapat meninjau kembali regulasi dan izin pendirian pasar tradisional baru yang lokasinya berdekatan dengan pasar yang telah ada.
“Harusnya pemerintah meninjau ulang. Buat apa ada pasar tradisional yang dikelola sama BUMD kalau mudah banget mendirikan pasar-pasar baru seperti itu,” pungkasnya.(rhl)






