KABUPATEN TANGERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang memperkuat mitigasi kekeringan untuk menjaga produktivitas padi di tengah musim kemarau. Hingga akhir September 2026, kekeringan tercatat berdampak pada 667,05 hektare lahan pertanian di 17 kecamatan dan 53 desa.
Melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP), Pemkab Tangerang menyalurkan bantuan alat mesin pertanian, pupuk, benih, serta sarana pengairan untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang Ujang Sudiartono mengatakan, upaya mitigasi dilakukan melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi Banten, perguruan tinggi, dan instansi terkait.
“Penyaluran bantuan ini sebagai mitigasi kekeringan dalam mendukung peningkatan produktivitas padi tetap terjaga di Kabupaten Tangerang,” kata Ujang.

Pada 2026, bantuan alat dan sarana produksi pertanian yang disalurkan meliputi 44 unit traktor roda dua, 14 unit cultivator, 75 unit pompa air, 88 unit handsprayer, serta alat perontok padi atau power thresher.
Pemkab Tangerang juga menyalurkan pupuk NPK sebanyak 25.825 kilogram, kompos 20.500 kilogram, pupuk organik 530.000 kilogram, pupuk organik cair 90 liter, serta benih padi sebanyak 86.900 kilogram.
Untuk memperkuat ketersediaan air, pemerintah memberikan bantuan 26 unit Irigasi Perpompaan (IRPOM) dan enam unit Irigasi Perpipaan (IRPIP). Selain itu, terdapat 22 unit Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibantu pada 2025.
Dukungan lainnya mencakup empat unit sumur pantek, dua unit sumur bor, serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier di 23 lokasi. DPKP juga menyalurkan bantuan benih padi dari UPTD Balai Benih sebanyak 3,6 ton kepada kelompok tani.
Menurut Ujang, bantuan tersebut ditujukan untuk memperluas akses air ke lahan pertanian, mengurangi risiko gagal panen, dan menjaga produktivitas padi selama musim kemarau.
Berdasarkan data hingga akhir September 2026, dari total lahan terdampak seluas 667,05 hektare, sebanyak 340 hektare dilaporkan mengalami puso, 85 hektare telah pulih, 73 hektare sudah panen, dan 230 hektare masih terancam.
Kondisi kekeringan dipicu tidak adanya hujan, ketiadaan sumber air, sumber air yang mulai mengering, hingga lokasi sumber air yang jauh dari lahan pertanian.
Pemkab Tangerang juga menjalankan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pihak swasta untuk mengembangkan alternatif pola tanam yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas padi di tengah keterbatasan air.(rhl)






